Kalau para pria menantikan kekasihnya dengan menghisap sepuntung rokok,
aku menantimu yang tak pernah melakukannya untukku dengan hanya menanti hujan reda.
Aku sangat suka hujan, tapi ketika menantikannya reda dengan menantimu menjadi sesuatu yang memaksaku mengamati tiap detailnya.
Kau baru tahu kan kalau hujan itu berbicara? membicarakan tentang sesuatu yang pernah kita lakukan bersama,
Kau tahu kalau hujan itu air, tapi mungkin kau baru tahu kalau ada bayangan kita di dalam tetesannya.
Dan hujanpun mengajarkanku lebih mengenalmu dengan menahanku di dalamnya
1 jam, 2 jam. belum reda juga... dan kau memang tak pernah datang
aku masih suka hujan, aku masih sabar mentikannya reda agar aku bisa pulang,
atau ketika saat itu berangan, aku menantikanmu membawakan pelindung untuk kepalaku
Aku tersenyum,
namun ternyata aku baru tahu kalau hujan itu seperti air mata
Heh, hujan tak ingin cepat berhenti malam itu
akupun putus asa, kuputuskan melawannya
Kau tahu apa rasanya? Dingin dan kaku. itu yang kurasakan saat itu.
Kau pasti tahu aku tergagap, bukan karena hujan, bukan karena kamu. aku tidak mengerti. tapi itu bukan karena kamu
Hingga matahari terbit keesokan hari,
membuat hatiku sedikit berdesir, aku masih suka hujan tapi aku tak lagi begitu suka hujan...
matahari membuatku sedikit hangat, dari rasa dingin dan kaku.
kini matahari yang membakarku, aku membara...
aku belum ingin hujan mematikannya....
aku menantimu yang tak pernah melakukannya untukku dengan hanya menanti hujan reda.
Aku sangat suka hujan, tapi ketika menantikannya reda dengan menantimu menjadi sesuatu yang memaksaku mengamati tiap detailnya.
Kau baru tahu kan kalau hujan itu berbicara? membicarakan tentang sesuatu yang pernah kita lakukan bersama,
Kau tahu kalau hujan itu air, tapi mungkin kau baru tahu kalau ada bayangan kita di dalam tetesannya.
Dan hujanpun mengajarkanku lebih mengenalmu dengan menahanku di dalamnya
1 jam, 2 jam. belum reda juga... dan kau memang tak pernah datang
aku masih suka hujan, aku masih sabar mentikannya reda agar aku bisa pulang,
atau ketika saat itu berangan, aku menantikanmu membawakan pelindung untuk kepalaku
Aku tersenyum,
namun ternyata aku baru tahu kalau hujan itu seperti air mata
Heh, hujan tak ingin cepat berhenti malam itu
akupun putus asa, kuputuskan melawannya
Kau tahu apa rasanya? Dingin dan kaku. itu yang kurasakan saat itu.
Kau pasti tahu aku tergagap, bukan karena hujan, bukan karena kamu. aku tidak mengerti. tapi itu bukan karena kamu
Hingga matahari terbit keesokan hari,
membuat hatiku sedikit berdesir, aku masih suka hujan tapi aku tak lagi begitu suka hujan...
matahari membuatku sedikit hangat, dari rasa dingin dan kaku.
kini matahari yang membakarku, aku membara...
aku belum ingin hujan mematikannya....