Awal tahun 2015,
tentunya semua orang berharap di awal tahun (dan setiap awal tahun tentunya)
seseorang dapat mengawali harinya dengan baik Begitupula saya. Sebelum pergantian
tahun, resolusi-resolusi dituliskan entah dalam buku, dalam pikiran atau dalam
hati. Begitupula saya.
Penghujung 2014, setelah semalam berjalan-jalan ke took buku
mencari buku Quantum Ikhlas tentunya berharap agar saya dapat mengupgrade diri
saya dalam kebaikan, dilanjutkan dengan begadang menyelesaikan pekerjaan rumah
saya merasa capek, tepat pukul 00:00 kembang api dan terompet hingar bingar
terdengar meriah di kost, saya dan teman sekost sempat takjub menyaksikan
kemeriahan kota Jogjakarta di malam pergantian tahun. Malam harinya saya
sempatkan untuk menanyakan kabar orang tua yang ternyata dari sore harinya
sudah pada istirahat, ayah bilang capek katanya.
Awal tahun 2015, Pagi hari saya kaget ketika HD menelfon
saya dan mengatakan dari semalam jam 9 dia ditinggal seorang diri di tengah
kebun kelapa sawit, dia menelfon jam 06:00 WIB. Tentu saja saya terkaget, dan
coba bertanya apa yang terjadi? ternyata ketika sedang bertugas mengantar buah
salah satu Truk DT pengangkut buah kehabisan kampas rem, sopir pamit mencari
bala bantuan dari semalaman belum kembali. Khawatir tentu saja, apalagi dia
bilang kelaparan. Apa yang harus saya lakukan ketika saya sejauh ini? Akhirnya saya
minta beberapa pin bbm rekan dan managernya, setelah lama di approve siang hari
saya berhasil menghubungi managernya untuk minta bantuan, saat itu pukul 10:00.
Selama bernegosiasi dengan menager via bbm saya juga sedang dibonceng salah
satu sahabat untuk cari sarapan berempat dan karena mungkin kurang focus, saya
hanya bawa hp dan dompet saya masukkan kantong jaket. Hati kecil saya
mengatakan ‘kenapa gak bawa tasnya biasanya? Kalo dompetnya jatuh gmn’. Tapi seringkali
saya mengbaikan apa yg hati kecil saya katakana.
Memang benar yang terjadi setelah sarapan dan mau bayar saya
baru sadar bahwa dompet saya jatuh. Saya dan sahabat yang bonceng saya mencoba
menyusuri jalan, hingga lapor ke kantor polisi dan 2 sahabat yang lain berpisah
karena ada urusan. 2 kali kami menyusuri dan bertanya pada hamper tiap orang,
di kost pun dicari untuk meyakinkan bahwa tidak tertinggal. Akhirnya hasilnya
pun nihil, kami menuju kantor polisi untuk membuat surat kehilangan. Hingga di
kost saya menjadi kesal dan akhirnya menangis, tapi kali ini saya ikuti kata
hati saya yang mengatakan ‘iklas pasti ada orang baik yang mengembalikan, atau
kamu akan dapat gantinya’. Karena yang hilang bukan hanya uang, melainkan SIM
KTP STNK ATM saya coba untuk menghubungi keluarga di rumah. Awalnya ibu mencoba
untuk menenangkan saya, ibu sepaham dengan saya untuk ikhlas dan diurus lagi
surat tersebut. Hingga giliran ayah bicara dengan saya di telpon, responnya
beda sekali. Ayah marah besar, suaranya nada tinggi hingga membuat saya
menangis. Karena memang ini bukan pertamakalinya saya menghilangkan barang
berharga saya (meskipun alahamdulillah pasti ketemu). Ketika telpon mati, hati
saya sangat sakit karena belum pernah ayah semarah itu pada saya . sakit sekali
dan saya tidak bias menahan dir untuk tidak menangis.
Saya puaskan untuk menangis, kemudian saya fokuskan lagi
untuk berpikir tenang mencari solusi, tidak lama kemudian kedua sahabat saya
yang berpisah pulang dan mendapati saya mengis dan saya ceritakan kejadianny
termasuk dompet yang belum ketemu, akhirnya benar saja saya sempat curiga namun
saya abaikan bahwasannya dompet saya memang jatuh namun ditemukan kedua sahib tersebut.
Syukur Alhamdulillah ya Allah meskipun singkat kejadian ini sangat mengungatkan
saya karena lupa sedekah, teledor dan seenaknya sendiri. Ibu kemudian
menghubungi saya kembali dan menjelaskan sikap ayah yang memang galak dan
tinggi.
Ayah memang bukan seperti kebanyakan ayah yang lain, yang
lembut dan sabar, ayahku unik sayangnya nggak ketulungan, mudah marah tapi
tidak pernah marah pada anaknya. Sungguh saya merasa berdosa sudah membuat ayah
marah. Di tepfon ibu juga menyampaikan bahwa ayah sedang sakit, linu di bagian
paha makanya lebih sensitive, saya merasa lebih berdosa lagi…ya Allah. Saya belum bias menjadi anak yang dibanggakan
orangtua saya, saya berusaha menasehati setiap tingkah kakak yang sering saya
nilai kekanakan, namun ternyata diri saya sendiri tidak lebih baik.
Ya Allah, Jagalah kedua orangtuaku, angkatlah seluruh rasa
sakitnya
Ya Allah sayangi mereka, bantu hamba membahagiakan mereka
Ya Allah, bukakanlah pintu kebaikan bagi Ayah Ibu
Ya Allah jadikanlah hamba dan kakak hamba, putr putrinya
yang mampu membahagiakannya di hari Tuanya ya Allah…
Ya Allah bantu hamba untuk mengkoreksi diri hamba ya Allah,
tunjukkan yang baik bagi hamba dan yang buruk agar bisa hamba tinggalkan
Ya Allah semoga hamba dan kakak hamba bias manjadi tabungan
kebaikan, tabungan surga bagi orangtua kami…Ya Allah..
No comments:
Post a Comment